Lingkungan merupakan tempat bersatunya makhluk hidup, baik hewani, nabati, maupun manusia. Begitu banyak pengertian mengenai lingkungan. Tapi, yang diatas adalah hasil pemikiran saya. Lingkungan juga merupakan tempat manusia merasakan kehadiran Tuhan melalui alam. Sejujurnya, saya bukanlah orang-orang yang cukup dekat mengenai lingkungan. Tapi menurut diri ini, dimanapun berada, tidak membuang sampah secara sembarangan, karena sampah merupakan masalah yang menimbulkan kerusakan lingkungan untuk jangka panjang. Kurangnya kepedulian manusia terhadap hal yang sepele menjadikan sampah mengotori alam. Lingkungan bukanlah hal yang mudah untuk dipelajari. Saya mempelajarinya melalui geografi, mata pelajaran IPS yang cukup dekat dengan lingkungan. Entah kenapa jadi ingat kejadian memalukan(setidaknya tidak trauma), lokasinya di pantai, waktu pergi bersama ayah, sayangnya waktu bermain malah terbawa ombak sampai kemasukan air yang asin. Tidak lupa juga pernah mengunjungi pulau bernama Untung Jawa(bagian dari Kepulauan Seribu).
Sayangnya, setelah berpisah selama 14 tahun, tidak banyak perubahan berarti untuk pantai ini. Kurangnya tangan pemerintah menjadikan tempat ini penuh dengan sampah. Berbicara mengenai seberapa dekat dengan lingkungan, mengingatkan saya dengan wisata Taman Safari di Bogor. Tapi pengalaman jalan-jalan tersebut hanya dialami semasa SD, belum pernah lagi dilakukan pasca lulus dari SD. Sebagai gantinya perjalanannya di ganti menjadi jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor, sayangnya lagi tidak sempat mengambil foto ketika pergi bersama keluarga, syukurlah sewaktu acara gereja mengambil foto sebagai bukti. Kebun Raya Bogor merupakan wisata terdekat apabila bepergian ke Bogor melalui kereta api. Suasananya yang bersih dengan jajanan di pinggiran jalannya(memiliki tempat tersendiri)sangat terawat. Kebun Raya Bogor merupakan contoh konservasi tanaman-tanaman terlengkap di Bogor. Biaya masuknya sesuai dengan kantong.
Di samping itu, tersedianya tempat sampah di setiap sudut jalan menjadikan pengunjung lebih peduli membuang sampah ke tempatnya dan bukan dibuang di dekat tanaman. Bandingkan hal ini dengan pantai Tanjung Pasir, yang memiliki persoalan dengan sampah menjelang siang ke sore. Setidaknya ada petugas yang mungkin mengurusi sampah yang bertebaran di sana, karena tidak adanya tempat sampah yang tersedia. Pantai ini sangat cocok untuk menyeberang ke Kepulauan Seribu. Tapi, pantai ini sangat tidak cocok untuk beristirahat ataupun sekadar berwisata, karena kondisinya yang perlu banyak perbaikan dan pembenahan.
Dari sinilah peran pemerintah, terlebih media arus utama untuk menginformasikan kepada penikmat berita realita mengenai lingkungan beserta unsur-unsurnya. Tanpa disadari melalui lingkungan bergerak juga unsur politik, ekonomi, sampai wirausaha memanfaatkan alam sebagai mata pencaharian tanpa pengrusakan. Kebakaran hutan yang terjadi belakangan ini disebabkan kurangnya pengawasan terhadap perusahaan, khususnya yang bersentuhan dengan alam sebagai bahan bakunya. Sebenarnya pengalaman saya mengenai lingkungan masih sangat terbatas, kendati sudah berusaha memahami lewat film-film dokumenter bertema lingkungan. Tentunya banyak yang dirugikan ketika terjadi pengrusakan terhadap alam, dan yang paling terkena dampaknya adalah masyarakat(dalam hal ini pekerja)ataupun negara tetangga. Keseluruhan tindakan pencegahan terhadap kebakaran hutan dan lahan menjadi tidak berarti apabila tindakan melestarikan lingkungan dan bersahabat dengan mereka(alam biotik dan abiotik)hanya sebatas kata-kata.
Tidak ada yang mampu mengukur seberapa dekat seseorang terhadap alam sekitarnya. Langkah tepat yang perlu dilakukan adalah menghormati dan berupaya baik kepada alam. Lingkungan yang baik menciptakan kehidupan yang harmonis. Sayangnya, harapan itu masih cukup jauh karena butuhnya pembenahan dan kesadaran manusia terhadap pentingnya menjaga alam beserta unsur-unsurnya. Sesungguhnya yang terkena dampak terhadap kerusakan lingkungan bukanlah generasi sekarang ini, melainkan generasi selanjutnya. Untuk itu pentingnya belajar berkenalan dengan alam beserta unsur biotik maupun abiotiknya, juga menegakkan prosedur yang berkaitan dengan alam. Kalau tidak dilaksanakan secepatnya(ditujukan untuk lembaga yang berkaitan dengan lingkungan), terlebih pendekatan untuk wilayah-wilayah sekitar bencana, maka hubungan internasional negara Indonesia dengan negara tetangga menjadi rusak dan canggung. Banyak yang perlu diperbaiki dan dibenahi, tapi dengan kesadaran diri sendiri, mampu untuk menjaga kelestarian lingkungan, kendati perannya tidak sebesar lembaga terkait.






