Durasi : 152 menit/Swedia. Mikael Blomkvist (Michael Nyqvist), Lisbeth Salander (Noomi Rapace). Sutradara : Niels Arden Oplev. Rilis : 10 November 2010. Nilai : 9,2/10
Halo pembacaku, postingan ini adalah penutup 2019 dan pembuka 2020. Tahun baru ini di buka dengan insiden musiman yang lebih “maju”, ketimbang tahun-tahun sebelumnya.
Tapi ke sampingkan pembahasan awal ini. Karena fokus saya adalah mengulas film misteri drama adaptasi dari sebuah buku. Nantinya adaptasi dari buku ini melahirkan trilogi asli dan adaptasi versi Amerika Serikat (disutradai David Fincher).
Tentunya film yang saya ulas ini adalah versi lawas/awal mula adaptasi menjadi film. Film kesekian yang mendalami pentingnya pekerjaan jurnalis, baik lingkup informasi maupun hal-hal yang belum terungkap ke publik.
Film ini mengisahkan cuti seorang jurnalis media “Millenium” dari jurnalisme setelah namanya di “kambing hitam” kan oleh narasumbernya terkait berita yang muncul. Alih-alih cuti, dia justru mendapat pekerjaan sampingan dari seorang kakek pensiunan industri.
Tugasnya adalah mencari keponakannya yang hilang untuk kurun waktu 40 tahun. Berbekal petunjuk di Alkitab dan fotografi hitam-putih, sang jurnalis memulai investigasinya bersama peretas muda. Nanti penyelidikan ini membongkar kebenaran kasus tak terduga.
Alurnya campuran (maju-mundur), tapi plotnya berhasil menjaga intensitas keingintahuan penonton terhadap penyelesaian kasus sampai akhir. Petunjuk-petunjuk yang terangkai selama penyelidikan berhasil mencapai konklusi (tidak maksimal, tapi lebih baik daripada drama misteri lainnya).
Keunggulan film ini adalah tidak membuyarkan harapan penonton, terkait kasus, bukti dan cara penyelesaiannya. Berbeda dengan yang saya ulas sebelumnya (Prisoner) maupun Zodiac, petunjuk (berupa catatan kecil) justru memiliki sisi penting ketimbang hanya sebagai tulisan belaka.
Dilirik dari sudut pandang jurnalistik, tidak mudah membongkar kasus yang memiliki keterhubungan dengan kasus-kasus serupa tapi tak terselesaikan oleh pihak berwajib (kepolisian). Metode wawancara, meriset-mengedit hasil foto sampai tingkat detail wajah, sampai menggabungkan teka-teki salah satu kitab dan melacak dokumen kasus sebelumnya merupakan cara jurnalistik mendalami kasus hingga fakta yang di butuhkan muncul.
Aktor-aktris untuk pemeran berhasil menjiwai perannya sesuai porsi durasi filmnya. Karakter-karakter pendukung cukup seimbang, baik aktingnya maupun kemunculan di layar. Keseluruhan karakter memiliki timbal balik satu sama lain.
Mikael Blumkvist (diperankan oleh Michael Nyqvist) berhasil menjalankan profesi sebagai jurnalis investigasi yang cerdas dan skeptis, meskipun mimik wajah kaku dan perlu keluwesan.
Lisbeth Salander (diperankan oleh Noomi Rapace) berhasil menempatkan dirinya sebagai peretas dan informan sejati. Karakter ini memiliki hubungan yang berkembang jadi “ayah-anak” dengan Mikael, sekaligus menjadikan karakter ini mudah disukai penonton. Keharuan terjadi saat dirinya memperkuat hubungan dengan Ibunya.
Martin Vanger (diperankan oleh Peter Harber) berhasil mengambil peran tersembunyi penuh intrik, triknya adalah yang terbaik demi menghindari kepolisian. Berbeda dengan munculnya tersangka di dua film sebelumnya, kemunculan tokoh ini memperkuat bukti tersembunyi keluarga Vanger.
Gelar “Heroine” jatuh ke karakterisasi Lisbeth Salander yang memberi andil pengembangan kasus.
Teknik sinematografi tidak jauh berbeda, angle medium shot dan detail adalah juaranya. Tidak ada teknik sinematografi unik seperti “extreme long shot” maupun “shot-shot” lainnya. Scoring cukup berhasil sebagai latar belakang scene tegang, tapi tidak sebagai “theme” film tersebut.
Penyelesaian misteri serta petunjuk yang berhasil dirangkai menjadi bukti adalah titik kekuatan film ini ketimbang dua film yang saya
Link Sumber:

