Sebelum membaca tulisan, penting menjaga jarak dengan orang sekitar atau Social Distancing, jaga kesehatan, tak lupa selalu update terbaru terkait Covid-19. Tindakan sederhana ini cukup untuk meringankan tugas petugas medis yang mengurusi pasien-pasien Corona, yang bagaikan pasir bening di pantai.
Tulisan melirik persoalan yang menerpa Negara kita dalam kurun waktu tiga-empat bulan, yaitu masalah Pandemi Corona. Pandemi Corona yang menerjang tiap-tiap Negara membuat masing-masing pemerintah mengeluarkan kebijakan, salah satunya Indonesia. Hanya kebijakan yang dibuat Pemerintah Negeri kerap menimbulkan masalah baru. Permasalahan mengakibatkan masyarakat sulit mempercayai Pemerintah, terutama ditengah situasi krisis.
Berawal dari sikap meremehkan pemerintah terkait virus Corona, mengakibatkan gelombang pengangguran berskala besar & kerugian di sektor-sektor penting. Media-media arus utama dipacu membuat berita hardnews karena informasi mengenai Corona penting bagi publik. Dampaknya, media-media arus utama mengedepankan hal-hal terkait Pandemi Corona. Tapi kurang memperhatikan bagian penting terdampak Corona, yaitu masyarakat. Rincinya, kelompok-kelompok masyarakat non-populer terdesak di tengah musibah-ketidakpeduliaan, sehingga perlu sorotan guna menyadarkan lingkungan sekitar.
Pengambilan angle seperti itu, mampu meningkatkan empati & kewaspadaan publik terhadap Corona. Kewaspadaan mampu mengajak publik beradaptasi dengan protokol kesehatan. Melalui empati, mampu merasakan perjuangan tiap-tiap orang saat berhadapan dengan Pandemi & PSBB. Semakin peka terhadap kesehatan, berarti menghargai kerja keras tenaga kesehatan/nakes melawan Pandemi.
Corona, PSBB/pembatasan sosial berskala-besar, hingga implementasi new normal merupakan cara-cara Pemerintah pusat-daerah melawan dampak Pandemi. Perang pro-kontra terkait penggunaan ganjil-genap kendaraan bermotor di DKI Jakarta, hingga pelanggaran hak cipta oleh Meikarta yang mengadakan drive-in cinema sebagai solusi tontonan, merupakan bagian kecil dampak Corona.
Kasus minor masuk ke liputan asumsi.co (pelanggaran hak cipta Meikarta). Langkah peliputan memberi kehadiran baru ke pembaca berita-berita bahwa peliputan tidak harus fokus ke bagian-bagian utamanya (Pandemi Corona). Tapi, mampu menyorot hal-hal kecil dampak dari Pandemi di kehidupan sehari-hari.
Kurun waktu tiga bulan, berbagai pekerjaan baik formal maupun non-formal, mengalami kemunduran, baik produksi-pengoperasian-absensi karyawan. Masa karantina menjadi momok menakutkan orang-orang, termasuk karyawan dan pengusaha. Opsi pemotongan gaji masing-masing perusahaan, merupakan opsi tersulit karena mereka tidak menginginkan hal ini.
Tiga bulan menjadi siksaan terbaru mahasiswa, karena suka tidak suka jadwal yang dirancang menjadi mundur atau berantakan. Magang berubah karena tempat kerja mewajibkan work from home, sehingga deadline-deadline kantor dikerjakan di rumah. Hal menjadi rumit bila koneksi internet tidak mau diajak bekerja sama, dan pekerjaan yang tertumpuk.
Ketimbang magang, mahasiswa yang mengikuti sidang Yudisium & persiapan wisuda harus gigit jari, karena pengunduran waktu kelulusan. Sedangkan mahasiswa-mahasiswa semester 1-6 bertarung dengan koneksi, yang terkadang tidak mampu diandalkan. Perubahan terjadi bila memliki project lapangan, suka tidak suka memutar topik & sumber di rumah, risiko berhadapan lebih lama dengan laptop & komputer. Hasilnya, lahirlah mata panda.
You know what I mean.
Berita-berita arus utama mengambil garis terdepan, yaitu meliput hal-hal berhubungan Pandemi Corona, sampai keputusan plin-plan Pemerintah. Bersyukur, kanal-kanal berita independen dan terpisah dari arus utama mengambil angle yang berhubungan dengan humanity ditengah Pandemi & PSBB, seperti cara puasa dan lebaran versi di rumah, atau tips-tips meluangkan waktu berkumpul saat Pandemi.
Kanal-kanal media memiliki jangkauan audiensnya, baik yang mainstream maupun independen. Ini merupakan bentuk keseimbangan di dunia jurnalistik agar masyarakat mampu memilih media yang sebagai kanal informasi maupun hanya hiburan semata. Filter terhadap media-media, terutama media dalam Negeri, mampu membuka mata kita terhadap realita Negeri kita ini, entah memajukan atau memundurkannya.
Demikian rekapan singkat mengenai tiga bulan masa karantina & work from home, serta pemberlakuan PSBB. Kita tidak mengetahui sampai kapan musibah berlanjut, yang perlu dilakukan adalah tetap waspada, menjaga jarak, dan mematuhi protokol kesehatan di manapun kita berada. Ini adalah catatan-ku selama tiga-empat bulan, terhitung Maret-April-Mei-Juni.
Tetap bersemangat dalam menjalankan kegiatan apapun, God Bless You. Serta, pekalah terhadap situasi kondisi lingkungan-mu agar mampu menjaga kesehatan di tengah pandemi ini.
