Kategori
Action Adventure Drama

Le Mans 24 Hours dari Layar Perak

  Foto Hitam-Putih Mobil Ford GT40 saat balapan Le Mans pada 1966. Sumber: Ford Media Center. 

     Apakah pembaca familiar dengan balapan Le Mans 24 Hours ? Kalau belum, penulis akan menceritakan secara ringkas balapan yang dikenal sebagai uji ketahanan. Jadi, Le Mans 24 Hours adalah balapan memutari sirkuit mulai start sampai finish secara berulang-ulang dalam kisaran satu hari penuh (24 hours). Olahraga ketahanan performa mobil ini mengedepankan kerjasama antara pembalap dan tim di pit-stop. Kerjasama bukan sekadar komunikasi, melainkan ketepatan waktu dan penyampaian emosi saat turun ke sirkuit. Kondisi itu digambarkan dalam film Ford v Ferrari pada 2019. Film yang mengangkat rivalitas kedua pabrikan besar, yaitu Ford dan Ferrari. Uniknya adalah rivalitas bukan pada perwakilan negara, melainkan secara tidak langsung mempertemukan gaya berbeda dari masing-masing benua.    

     Kisah Ford v Ferrari menunjukkan pentingnya peran jurnalisme untuk menceritakan apa saja kejadian menarik di sirkuit. Kathryn T. Stofer (2009) dalam bukunya berjudul An Introduction to Reporting and Writing mengungkapkan bahwa jurnalis olahraga adalah pencerita yang mengisahkan kombinasi aksi dan sisi humanis kepada khalayak ataupun publik. Jurnalisme juga memiliki peran memberitakan kerjasama dan kegagalan bisnis antara pihak A dan B kepada publik. Dalam film, hal itu digambarkan pada proposal kerjasama Ford dengan Ferrari yang berakhir penghinaan untuk Ford, sedangkan pihak Fiat satu langkah didepan bersama Ferrari. Konflik ini membuka inti persaingan Ford melawan Ferrari seperti tertera di judul.  

     Sementara itu, Carroll Shelby (Matt Damon) berkenalan dengan Ken Miles (Christian Bale), pembalap dan mekanik Inggris yang memenangkan kejuaraan lokal bermodal mobil yang bagasinya dipukul masuk. Sementara itu, Carroll Shelby adalah pensiunan Le Mans 24 hours dan beralih profesi menjadi pebisnis otomotif dengan merk Shelby American. Kontribusi kedua orang bukan hanya membawa Ford sebagai rival Ferrari, melainkan mematahkan dominasi Kuda Italia yang mendominasi Le Mans 24 hours dan masuk topik pemberitaan. Namun, kisah apik kedua orang terhalang oleh direktur balapan Ford, Leo Beebe, yang kontra dengan Miles.

       Liputan Le Mans 24 hours bukan bertumpu pada siapa pemenangnya, melainkan siapa yang mencetak kecepatan lebih baik serta bertahan dari pembalap lain. Karena siapapun yang mencetak dua hal di atas, secara langsung memberi manfaat untuk tim, pabrikan dan angle jurnalistik yang berbeda. Kemudian, jurnalis harus bersiap menyajikan konten dan mengisahkan apapun yang terjadi pada sirkuit Le Mans. Contohnya kecelakaan yang menimpa Ferrari pada 1966 yang ditampilkan layar perak. 

Poster Ford v Ferrari. Sumber: IMDb.com

      Kisah Ford v Ferrari juga merujuk pada persaingan bisnis sehingga balapan Le Mans memiliki dampak bagi masing-masing pihak. Sementara itu, pemasangan kampas rem tim Ford yang menimbulkan pertengkaran dengan tim Ferrari yang beranggapan itu curang, sedangkan tim Ford yakin melakukan pemasangan sesuai peraturan, adalah drama terbaik yang disajikan dalam film. Sajian konflik dalam film bukan pada sirkuit saja, melainkan samping sirkuit dan bagian atas (manajemen) memiliki kisah konfliknya masing-masing. Kesatuan yang menjadikan film lebih terasa real daripada sekedar rekaan imajinasi kru film. Ford v Ferrari adalah satu dari sekian adaptasi kisah nyata ke layar perak yang berhasil menunjukkan isi filmnya tanpa mengurangi peristiwa aslinya.

      Film Ford v Ferrari menunjukkan kepada penonton dan penulis betapa sulitnya meliput dan mengenali balapan yang tidak ditentukan dari sentuhan garis akhir. Karenanya observasi dan ketelitian dibutuhkan saat mengukur rekor kecepatan pengemudi, dinamika tim dan persaingan antar pabrikan, baik dalam balapan maupun bisnis berkepentingan.  

Kemudian, ada baiknya kalian menonton sampai durasi akhir. Karena menjelang akhir balapan, Ken Miles melakukan satu keputusan penting dalam sejarah balapan Le Mans 24 Hours 1966 saat itu. Menurut penulis, bagian terkuat dari film adalah penutupan kisah Ken Miles melalui dialog monolog 7000 rpm sehingga meninggalkan kesan mendalam di hati penonton. Serta memberi pengaruh besar bagi karakter-karakter yang dimunculkan di film, salah satunya Carroll Shelby.

Referensi 

https://kumparan.com/playstoprewatch/5-hal-di-film-ford-v-ferrari-yang-tak-sesuai-fakta-1sJtw4iteEy

https://www.alinea.id/gaya-hidup/ford-v-ferrari-sejarah-rivalitas-di-sirkuit-dan-bisnis-b1Xqb9psg

https://historia.id/olahraga/articles/lintasan-sejarah-ajang-24-hours-le-mans-6ankb

https://www.imdb.com/title/tt1950186/

https://media.ford.com/content/fordmedia/feu/fr/fr/news/2016/06/09/remembering-le-mans-1966.html

avatar Abed Putra

Oleh Abed Putra

Hanya seseorang yang berusaha mencurahkan analisis pemikirannya sebagai bentuk apresiasi terhadap karya seni.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai