
Jauh sebelum film-film berwarna bermunculan, kita tentunya mengenal bahwa abad ke-20 awal adalah kehadiran film berwarna hitam-putih. Untuk film hitam-putih yang ramai dibicarakan adalah Cold War (2018, Pawel Pawlikowski) & Roma (2018, Alfonso Cuaron). Sayangnya, sementara ini ulasan membahas film hitam-putih yang berkaitan dengan psikologi-kejahatan.
Sekilas dengan judulnya, apakah terdengar asing, soalnya fim ini memiliki versi remakenya berjudul The Bad Seed(2018). Sedangkan yang ini adalah versi originalnya. Ini hanya info tambahan sebelum sampai ke ulasan sebenarnya. Sinopsis film ini mengisahkan seorang gadis bernama Rhoda Penmark (Patty McCormark) yang memiliki kelainan psikologi akibat keinginan yang tak terpenuhi, menjadikan dirinya sebagai gadis mengerikan.
Alur untuk film adalah alur maju, sedangkan plotnya berfokus pada drama keluarga yang terbangun di ceritanya. Kisah-kisah flashback tidak digambarkan dengan visualisasi, melainkan hanya melalui dialog-dialog antar tokoh. Skripnya terjalin dengan kuat dari adegan-ke adegan lainnya, aku cukup menyukainya kedati temponya lambat. Durasinya yang mencapai dua jam lebih bisa jadi adalah salah satunya. Satu-satunya hal yang mungkin terasa kurang adalah ending-nya yang berakhir seperti itu. Tapi, untuk alur & plot yang berfokus pada penyakit masa lalu keluarga berhasil menutupi kelemahan durasi.
Setelah mengulas alurnya, pindah ke visualisasi. Seperti yang diceritakan sebelumnya, keunikan film ini adalah visualnya hitam-putih, tapi kita sebagai penonton masih mampu menikmatinya. Kekuatan lainnya untuk film ini adalah sinematografinya yang cukup apik. Hanya mengandalkan keseluruhan lingkungan rumah(beserta ruangannya), berbekal teknik framing, medium shot, close-up, dan pencahayaan, sudah cukup menjadikan film ini memiliki visualisasi apik kendati masih kalah dengan film hitam-putih lainnya. Tidak lupa unsur musik yang selalu dimainkan saat lampu kamar tidur dimatikan atau saat memberikan pernyataan yang mengejutkan. Unsur musiknya berhasil membangun suasana waspada ketimbang horor. Scene yang aku suka adalah permainan musik piano ketika salah satu pembantu rumah menjadi korban kecelakaan yang sudah diatur sebelumnya(kalau menonton, kalian pasti tahu maksud ku)
Tahap akhir ulasan ini adalah karakterisasi. Meskipun tokoh utamanya adalah gadis berusia 8 tahun, karakterisasi justru hadir dari ekspresi sang ibu & pembantu-pembantu rumah, serta ibu dari pihak korban. Tentunya, karakter utamanya memiliki karakterisasi dan motivasi, kendati motivasi tindakannya kurang mendalam. Ku suka dengan sisi ceria kendati akhirnya menerima kenyataan bahwa sisi ceria hanya permukaannya saja. Kualitas aktingnya tak perlu diragukan lagi, pemainnya tidak banyak tapi menciptakan hubungan komunikasi satu sama lain. Tidak lupa, setelah ending, ada sedikit tambahan(extra)adegan. Jadi, silakan nikmati waktu liburan untuk sekali-kali film hitam-putih sebelum kembali ke era warna.
Total nilai untuk The Bad Seed (1956) adalah 8,4/10
