
Film dengan genre perang(War)merupakan salah satu genre yang menarik apabila ditelisik lebih dalam, selain film dengan genre drama. Meskipun genrenya perang (War), setiap film dengan genre ini membawakan aura perang-nya dengan cara yang bermacam-macam. Beberapa film bertema perang menampilkan plot-plot seperti pencarian seorang prajurit oleh sekelompok prajurit di perbatasan perang dunia kedua(Saving Private Ryan, 1998), saat waktu dan kronologi memegang peranan keberhasilan perang dunia kedua (Dunkirk, 2017), pertempuran antar kru tank(Fury,2014) dan sebagainya.
A Private War (2018) merupakan film bertema perang yang mengambil sudut pandang dampaknya ke masyarakat sekitar melalui sisi profesi jurnalistik. Formula film ini tidaklah asing karena teknik ini digunakan oleh Hacksaw Ridge (2016). Hanya saja, meskipun formulanya tidak baru, cara penyampaian A Private War sudah cukup memberi wawasan untuk karir sang karakter utama. A Private War mengisahkan perjalanan seorang koresponden jurnalis perang dari Sunday Times, Marie Colvin(Rosamund Pike). Film ini merupakan untaian-untaian perjalanan sang karakter utama mengarungi medan perang(dari Sri Lanka-Homs, Suriah) dengan pensil dan laptop. Perjalanan menguak kebenaran di balik medan perang menimbulkan efek-efek psikologis sebagai dampaknya.
Alurnya mundur, tapi tak perlu khawatir dengan plotnya. Plotnya mengalami perkembangan dari satu kejadian ke kejadian selanjutnya. Inti plotnya berpusat pada sisi psikologis sang karakter utama pasca meliput wilayah peperangan. Apa yang terjadi di Sri-Lanka menjadi tonggak awal perjalanan sang karakter utama, sampai akhir perjalanannya saat durasi terakhir. Bagian endingnya adalah scene terbaik karena menampilkan wawawancara sebagai penutup. Tapi, bagian terbaik dari sisi plot adalah menampilkan wawancara dengan ketua pemberontak (sang karakter utama mewawancarai tokoh ini sebanyak dua kali), demi mendapat pernyataan di balik perang yang berkecamuk saat itu.
Visualisasi adalah senjata utama untuk sebuah film bertema perang(kendati hal yang sama berlaku untuk film lainnya). Sinematografi yang mengandalkan Wide-shot(untuk penggambaran wilayahnya), close-up, medium-shot, low-angle, hingga frame berhasil membuat penonton tidak jatuh bosan. Musik latar belakang menjadi senjata utama kedua untuk film ini. Melalui musik latar belakangnya, kita mampu mendapat sisi kesedihan, ketegangan, dan kehilangan, baik yang dialami masyarakat pengungsi perang maupun sang karakter utama.
Karakterisasi untuk film ini tak perlu diragukan lagi. Akting cast yang sudah terpilih berhasil menjiwai karakternya masing-masing. Poin tambahan tetap dipegang sang karakter utama yang berhasil mempresentasikan aura keberanian dan ketekadan untuk mendapat berita yang layak untuk publik. Setiap karakter pendukung memiliki keterikatan satu sama lain dengan karakter utama. Baik itu dengan sahabatnya, maupun dengan fotografer yang dipilih setiap meliput perang. Editor dan anak magang juga mendapat karakterisasi, kendati jumlah layar karakter magang lebih sedikit ketimbang si editor. Patut diacungi dua jempol untuk akting pemain-pemainnya.
Total nilai untuk A Private War 8,8/10
Sebuah kisah perjalanan jurnalis yang menarik untuk ditonton.
Link Sumber:
